Sabtu, 13 juli 2013.
Hujan di malam minggu seolah tidak
memberikan pegaruh akan minat para antusias teater yang telah berkumpul di
salihara, tidak juga saya dan kekasih yang telah kehabisan tiket untuk
mahasiswa.
Malam itu, Teater Satu Bandar
Lampung akan membawakan naskah Maut dan
Sang Perawan karya Arief Doufman-novelis, dramawan, esais dan aktivis HAM.
Tidaklah mengherankan karena selama ini teater yang telah dua kali dinobatkan
Tempo sebagai teater terbaik Indonesia tersebut memang memiliki minat terhadap
isu-isu sosial, HAM, serta konflik etnis.
Tatanan panggung tunggal
dengan settingan sebuah rumah sederhana, serta kemahiran tim belakang layar
yang bergerak cepat dalam gelap. Komponen lainnya yang mengesankan tentu ketahanan fisik para aktor dan kemampuan memori mereka terhadap
teks yang mereka mainkan. Pertunjukkan yang disutradarai Iswadi Pratama ini,
menyajikan narasi yang panjang, dengan dialog yang padat dan Teater Satu berhasil
membawa kedalam dunia pertunjukan nyata.
Paulina yang dulunya adalah mantan aktivis komunis, menjadi korban
penyiksaan dan pemerkosaan aparat militer. Sisa trauma masih membekas meski
peristiwa sadis itu telah terjadi lima belas tahun lalu ditambah dengan fakta
bahwa saat ia berhasil kabur dari tahanan mereka, suaminya Gerry malah selingkuh
dengan kerabatnya sendiri.
Bagaimanapun juga Paulina akhirnya menikah dengan Gery, yang kemudian
menjadi pemimpin komisi penyelidikan kasus-kasus kejahatan terhadap HAM. Saat
Paulina dan Gery berlibur, muncullah Miranda, dokter yang bekerja untuk militer
dan pernah memperkosa Paulina. Miranda yang awalnya bertugas memeriksa kondisi
tawanan menjadi keji dan memperkosa Paulina seraya mendengarkan “Death and The
Maiden” karya Schubert.
Paulina meyakinkan dan mendesak Gery agar menyeret Miranda ke pengadilan.
Tapi Gery menyangsikan ingatan Paulina terhadap Miranda. Juga tak ada
bukti-bukti hukum yang bisa diajukan untuk mendakwa Miranda selain cerita dan
'kebenaran' ingatan Paulina.
Disangsikan oleh suaminya sendiri, Paulina, Sang Tokoh sentral berubah
drastis. Wanita yang awalnya lebih banyak diam dan menurut, jadi wanita
penyiksa Dokter Miranda. Wanita yang mampu bergerak cepat, tangkas, dan
cenderung sadis. Ia mengikat Dokter Miranda saat lewat jam tengah malam, menuju
dini hari. Menyumpal mulut Dokter Miranda dengan celana dalam yang ia
pakai. Lalu merekatkan mulut dokter itu dengan lakban.
Dimulai dengan kedadaan tegang menuju ketegangan yang mencekam kemudian klimaks di bagian akhir, penonton disajikan konklusi dari sisa konflik pergulatan batin para tokoh. Gery, diberi wewenang oleh Paulina untuk memutuskan, apakah ia akan membunuh,
menyeret ke pengadilan, atau membebaskan Dokter Miranda. Paulina yang dianggap
sakit jiwa, dan Dokter Miranda, yang tanpa
penyesalan dan rasa bersalah namun takut pada Paulina, jelmaan bayang-bayang maut yang mengerikan
baginya.
Apa yang paling diinginkan Paulina bukanlah kemudahan mati bagi Dokter
Miranda, ia hanya ingin keadilan, dan menyeret dokter itu ke pengadilan.
“Saya butuh pengakuan dia yang sudah menyiksa, memerkosa saya. Dialah
Dokter Miranda. Dokter yang kau inapkan di rumah ini, dan kau suruh aku buatkan
sarapan di pagi buta, Gery!”
Pada akhirnya idealisme paulina akan keadilan kalah. bukan lagi keadilan
yang dicari oleh paulina, melainkan sekedar pengakuan -sebuah justifikasi akan
semua perlakuan yang ia buat terhadap dokter Miranda, akan kebenaran yang ia
percayai selama ini.
Pertunjukan ditutup dengan paulina yang membakar surat pernyataan dokter
miranda yang mengaku bersalah. bukan karena ia lega atau puas akan pernyataan
tersebut, melainkan karena pada akhirnya, tidak ada satupun hal yang ia lakukan
dapat membuat dokter miranda merasa menyesali perbuatannya atau sekedar merasa bersalah.
Bagi saya pribadi, pertunjukan ini
mengingatkan saya pada satu statement brilian yang selalu saya tanam dalam
pikiran, "curiousity kills the cat". Melihat tokoh paulina saya seperti
disadarkan kembali bahwa seseorang bisa mati karena kebenaran yang berlebihan.
Paulina memilih mencari kebenaran, tapi apa yang ia temui pada akhir
perjuangannya tersebut? Sakit yang tak terobati dan hampa yang tak
berkesudahan.
Entah apa yang dipikirkan Teater
Satu saat memutuskan untuk membawakan Maut dan Sang Perawan di Helateater tahun
ini. Namun karya yang berlatar tahun 1990 di suatu negara di Latin Amerika ini
sedikit menggelitik saya untuk memikirkan keadaan Indonesia sekarang. Issue
seperti budaya patriarki istri terhadap suami (paulina), pemerintahan kotor
dimana seseorang akan mengorbankan keyakinannya di masa lalu demi jabatan
(gery), bersedia melakukan apapun demi keselamatan diri sendiri (miranda),
dimuat dalam judul besar HAM dan keadilan.
***
Forgiving is NOT forgetting. But life carries on.
