Jul 15, 2013

HELATEATER: Maut dan Sang Perawan

Sabtu, 13 juli 2013.

Hujan di malam minggu seolah tidak memberikan pegaruh akan minat para antusias teater yang telah berkumpul di salihara, tidak juga saya dan kekasih yang telah kehabisan tiket untuk mahasiswa.

Malam itu, Teater Satu Bandar Lampung  akan membawakan naskah Maut dan Sang Perawan karya Arief Doufman-novelis, dramawan, esais dan aktivis HAM. Tidaklah mengherankan karena selama ini teater yang telah dua kali dinobatkan Tempo sebagai teater terbaik Indonesia tersebut memang memiliki minat terhadap isu-isu sosial, HAM, serta konflik etnis.

Tatanan panggung tunggal dengan settingan sebuah rumah sederhana, serta kemahiran tim belakang layar yang bergerak cepat dalam gelap. Komponen lainnya yang mengesankan tentu ketahanan fisik para aktor dan kemampuan memori mereka terhadap teks yang mereka mainkan. Pertunjukkan yang disutradarai Iswadi Pratama ini, menyajikan narasi yang panjang, dengan dialog yang padat dan Teater Satu berhasil membawa kedalam dunia pertunjukan nyata.

Paulina yang dulunya adalah mantan aktivis komunis, menjadi korban penyiksaan dan pemerkosaan aparat militer. Sisa trauma masih membekas meski peristiwa sadis itu telah terjadi lima belas tahun lalu ditambah dengan fakta bahwa saat ia berhasil kabur dari tahanan mereka, suaminya Gerry malah selingkuh dengan kerabatnya sendiri.

Bagaimanapun juga Paulina akhirnya menikah dengan Gery, yang kemudian menjadi pemimpin komisi penyelidikan kasus-kasus kejahatan terhadap HAM. Saat Paulina dan Gery berlibur, muncullah Miranda, dokter yang bekerja untuk militer dan pernah memperkosa Paulina. Miranda yang awalnya bertugas memeriksa kondisi tawanan menjadi keji dan memperkosa Paulina seraya mendengarkan “Death and The Maiden” karya Schubert.
Paulina meyakinkan dan mendesak Gery agar menyeret Miranda ke pengadilan. Tapi Gery menyangsikan ingatan Paulina terhadap Miranda. Juga tak ada bukti-bukti hukum yang bisa diajukan untuk mendakwa Miranda selain cerita dan 'kebenaran' ingatan Paulina.

Disangsikan oleh suaminya sendiri, Paulina, Sang Tokoh sentral berubah drastis. Wanita yang awalnya lebih banyak diam dan menurut, jadi wanita penyiksa Dokter Miranda. Wanita yang mampu bergerak cepat, tangkas, dan cenderung sadis. Ia mengikat Dokter Miranda saat lewat jam tengah malam, menuju dini hari. Menyumpal mulut Dokter Miranda dengan celana dalam yang ia pakai. Lalu merekatkan mulut dokter itu dengan lakban.

Dimulai dengan kedadaan tegang menuju ketegangan yang mencekam kemudian klimaks di bagian akhir, penonton disajikan konklusi dari sisa konflik pergulatan batin para tokoh. Gery, diberi wewenang oleh Paulina untuk memutuskan, apakah ia akan membunuh, menyeret ke pengadilan, atau membebaskan Dokter Miranda. Paulina yang dianggap sakit jiwa, dan Dokter Miranda, yang tanpa penyesalan  dan rasa bersalah namun takut pada Paulina, jelmaan bayang-bayang maut yang mengerikan baginya.

Apa yang paling diinginkan Paulina bukanlah kemudahan mati bagi Dokter Miranda, ia hanya ingin keadilan, dan menyeret dokter itu ke pengadilan.

“Saya butuh pengakuan dia yang sudah menyiksa, memerkosa saya. Dialah Dokter Miranda. Dokter yang kau inapkan di rumah ini, dan kau suruh aku buatkan sarapan di pagi buta, Gery!”

Pada akhirnya idealisme paulina akan keadilan kalah. bukan lagi keadilan yang dicari oleh paulina, melainkan sekedar pengakuan -sebuah justifikasi akan semua perlakuan yang ia buat terhadap dokter Miranda, akan kebenaran yang ia percayai selama ini.

Pertunjukan ditutup dengan paulina yang membakar surat pernyataan dokter miranda yang mengaku bersalah. bukan karena ia lega atau puas akan pernyataan tersebut, melainkan karena pada akhirnya, tidak ada satupun hal yang ia lakukan dapat membuat dokter miranda merasa menyesali perbuatannya atau sekedar merasa bersalah.


Bagi saya pribadi, pertunjukan ini mengingatkan saya pada satu statement brilian yang selalu saya tanam dalam pikiran, "curiousity kills the cat". Melihat tokoh paulina saya seperti disadarkan kembali bahwa seseorang bisa mati karena kebenaran yang berlebihan. Paulina memilih mencari kebenaran, tapi apa yang ia temui pada akhir perjuangannya tersebut? Sakit yang tak terobati dan hampa yang tak berkesudahan.

Entah apa yang dipikirkan Teater Satu saat memutuskan untuk membawakan Maut dan Sang Perawan di Helateater tahun ini. Namun karya yang berlatar tahun 1990 di suatu negara di Latin Amerika ini sedikit menggelitik saya untuk memikirkan keadaan Indonesia sekarang. Issue seperti budaya patriarki istri terhadap suami (paulina), pemerintahan kotor dimana seseorang akan mengorbankan keyakinannya di masa lalu demi jabatan (gery), bersedia melakukan apapun demi keselamatan diri sendiri (miranda), dimuat dalam judul besar HAM dan keadilan.














***
Forgiving is NOT forgetting. But life carries on.