Apr 12, 2013

ruang kelas

Ruang kelas. Sudah ada satu orang disana.
Tampak khusyuk memainkan ipad nya sambil bergumam menggerutu.

Anak aktif
“di zaman demokrasi sperti ini, masih ada saja pengekangan HAM. Iya, HAM. Hak Asasi Manusia. Hak untuk hidup, hak untuk berpendapat, hak untuk berbicara.
Cogito ergo sum. I think, therefore iam. Aku berpikir maka aku ada.
Namun apa guna berpikir, bila tidak diutarakan? Bukankah sama saja dengan membuat diri sendiri menjadi gila? Lantas yang terjadi selanjutnya adalah upaya meregang nyawa.

Tiba-tiba seorang guru masuk, membawa seorang anak lainnya. Anak itu berpakaian tidak rapih.

guru
“Silahkan duduk di manapun kau mau. Ibu sarankan kamu cuci muka dan kumur- kumur dahulu. Masih jam 9 pagi matamu sudah seperti sapi.”
anak bandel
“saya kan belum tidur:”
guru
“Terlalu!
Sudah datang 2 jam terlambat dari bel masuk sekolah,
masih berani bilang belum tidur?”
anak bandel
“memang belum tidur.  Maaf saja, kehidupan saya bukan hanya dalam lembaga institusi ini.
 Berbeda dengan ibu yang, ehem, bergantung pada lembaga ini.
Baik secara finansial yah mupun rutinitas.”
guru
“Kurang ajar. Sudah. Saya masih banyak yang harus dikerjakan. Kalian jangan kemana-mana”

Sang guru keluar. Si anak kedua berjalan malas menuju kursi di pojok, menendang meja baru kemudian mengambil posisi selonjoran untuk tidur.
Tinggalah dua orang itu di ruang kelas tersebut.
Anak kedua bergumam menggerutu.

Anak bandel
“kurang ajar. Dia bilang aku kurang ajar. Berarti aku butuh diajar lebih.
tapi dia lupa, jika seorrang murid kurang ajar,
maka guru makan gaji buta.”
“saya masih banyak yang harus dikerjakan,
katanya,
apalagi tanggung jawab seorang guru selain mengajar anak muridnya
supaya si anak tidak kurang ajar tentunya.”
“pahlawan tanpa tanda jasa. mana? tak lebih dari pion-pion lembaga.”

Tiba-tiba sang guru masuk kembali membawa murid yang lain,

guru
“kamu, tolong temani mereka disini. Karena semua guru sedang mengajar sementara guru piket juga sedang mengurus hal yang lain. Ibu percaya sama kamu, siapa tau kamu sebagai murid teladan bisa meluruskan jalan otak mereka”
anak ‘teladan’
“Siap bu, walaupun saya sebenarnya lebih menyukai jika saya tinggal di kelas saja untuk belajar”

Sang guru pun pergi meninggalkanm mereka dalam kesunyian.               
Ketiganya tampak asik dengan diri masing-masing, anak pertama maih dengan ipadnya.            
Anak duduk selonjoran di kursi dan tertidur.     
Sementara anak ketiga mondar-mandir, tampak bosan, kemudian angkat bicara.

Anak ‘teladan’
“hey kau. Apa yang kau lakukan? Betah sekali kau menatap layar menyala itu.”

Memalingkan pandangannya sejenak dari ipad, kemudian kembali mengetikkan sesuatu disana sambil menjawab
Anak aktif
“aku sedang forum.”
Anak ‘teladan’
“gaya sekali.”
Anak ‘teladan’
“penasaran. Kok bisa sampai dihukum?”
Anak aktif
“ya itu, karena aktif. Aku mengkritisi pendidikan indonesia di blog pribadiku padahal.”
Anak ‘teladan’
“kalo orang di sebelah sana?”
Anak aktif
“tidak tahu”
“ah dari penampilannya pasti dia anak bandel”
“iya, tipe yang menyia-nyiakan masa muda”

Tiba-tiba si anak bangun.

Anak bandel
“apa-apaan kalian ngomongin gue: merasa paling baik?”
Anak aktif
“yaudah emangnya lo kenapa?”
Anak bandel
“ya ini bentuk pemberontakan gue terhadap pendidikan indonesia yang merosot.”
Anak ‘teladan’
“ah, lagian kalian kenapa sih harus mencari masalah. Hidup adalah permainan, ikuti saja aturannya. Atau jika kalian pintar, temukan solusi kalian sendiri. Ya, seperti aku.”
Anak bandel
“maksud kamu apa?”
Anak ‘teladan’
“ya kalian. Kenapa harus mempersulit diri dengan segala hal ini?
kita ini budak pendidikan, ikuti saja romantika nya”
“Bagi para guru dan orangtua, hanya ada dua pilihan dalam masa SMA.
anak eksis yang bodoh dan bodoh atau bermasalah, dan anak rajin atau siswa teladan macam diriku ini”
“dan untuk mencapai hal itu tidaklah sulit.
aku bukanlah seorang idealis, tapi yang pasti aku perfeksionis dalam hal akademis.
banyak jalan menuju roma,
banyak cara menjadi murid teladan.
dengan segala kemudahan pada zaman kita ini,
tidak ada yang namanya plagiarisme, yang ada hanya ATM –amati tiru modikfikasi.
bukan mencontek, tapi memiliki ‘persiapan lebih’ “
“dan tentunya, bagi tipe yang seperti aku, yang selalu terlihat sempurna tentunya,
kita diberikan segala kemudahan dari guru dan orang tua.
perlakuan luar biasa baik dan respect dari para guru,
serta kehidupan nyaman peniuh fasilitas dari  orang tua.
karena, yah, kita telah terlebih dahulu menyenangkan mau mereka.”
Anak bandel
“kau salah.
pilihannya menjadi anak eksis yang bermasalah, belum tentu bodoh,
atau menjadi anak teladan yang menyesali hidup”
“anak teladan. Kaum intelek.
membekali masa depan tanpa melihat apa yang sekarang kalian lewatkan.”
Anak ‘teladan’
“pepatah bilang, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian.”
anak bandel
“pada kenyataannya yang merasa sakit sekarang adalah kami.
sementara kau, seperti katamu, memiliki segala kebahagiaan seorang anak dan murid.”
Anak aktif
“baiklah, jika sekarang kutanyakan,
selain nilai dan penghargaan yang barusan kau banggakan,
lantas apa lagi?”
anak ‘teladan’
“apanya?”
anak bandel
“kaau berusaha begitu keras, mempersiapkan diri untuk masa depan dengan dasi, kemeja, parfum wajib hanya untuk menghadapi kemacetan Jakarta. Rutinitas pekerja kantoran pergi pagi pulang larut malam”
“ apa bedanya sekarang dengan dirimu yang berangkat subuh ke sekolah, pulang sore yang kemudian berlanjut rutinitas bimbingan pelajaran, hingga pada malam hari kembali berkutat dengan segala tugas?
 menjadi robot yang bahkan menghalalkan segala cara demi sesuatu yang kita sebut nilai akademis, bukan pendidikan.”
Anak aktif
“lantas kau  pikir kau lebih baik?
menjalani masa SMA dengan ugal-ugalan, berdalih bahwa itu caramu memprotes kesalahan pendidkan dan segala alibi buatan mu lainnya.
sementara pada dasarnya kau hanya takut tidak mampu, dan tidak mengerti apa arti otoritas.
kau ingin hidup bebas? Sana tinggal di hutan bersama tarzan.
caramu tidak berbeda dengan anak kecil yang merajuk di tengah toko mainan, menangis sekeras-kerasnya, berguling di lantai, mempermalukan diri sendiri demi mendapat apa diinginkan hati.”

Anak ‘teladan’
“lihat siapa yang berbicara.
merasa diri paling benar.
hanya bisa mengkritisi, namun apa yang telah kau lakukan untuk memperbaiki?
apa bedanya dengan praktisi politik yang berbicara banyak seakan peduli, namun hanya duduk di belakang meja dengan cantik?
Sok mengkritisi pendidikan Indonesia,
padahal kemarin menjelekkan nama sekolah ini di blog pribadi dan akun twitter,
kemudian mengatasnamakan ‘Kritis’
Bahkan dalam blog mu, kamu tidak menggunakan bahasa Indonesia yang bauik dan benar kan?
Anak aktif
“apa-apaan sih? Itu argumen yang dibuat-buat!”
Anak bandel
“sudah! Lalu sekarang salah siapa?
katakan padaku, salah siapa? Menteri pendidikan?”

Ketiganya hening.
Anak ‘teladan’
salah.......
Anak aktif
......kita.
Anak bandel
memang.
Anak ‘teladan’
“rasanya aku mau les musik. Dan mengulang karya tulisku untuk tugas akhir.
Anak aktif
aku mau membenarkan postinganku, baik secara tata bahasa, dan sudut pandang.
 Harus lebih objektif.”

Anak bandel
“aku mau pulang. Minta maaf ke mama, lalu tidur.”