sunyi, sepi. hanya angin dingin yang seolah mendramatisasi. apa? perasaan ini. sama seperti tiap malam yang kulalui, sendiri, ketika semua orang sudah lelap dalam mimpi. dan media bernama twitter itu yang tersisa ramai, seolah manusia tiak perlu tidur dan membuka mata di pagi hari.
waktu dimana biasanya dirimu masih berkicau menceritakan apa saja yang terlintas, terjadi, atau sekedar ingin kau sampaikan. mulai dari lagu-lagu yang tak lazim dan bagiku menyeramkan, cerita-cerita aneh bin ajaib yang selalu membuat nyaman, semua upaya kerasmu untuk membuatku tertawa yang jauh dari kategori lawakan, dan semua hal manis yang membuatku ingin waktu berjalan lebih pelan.
kulihat kamu sibuk, senang rasanya dirimu bisa bertahan melalui hari-hari liburan yang terkutuk walaupun masih tak lepas dari menggerutu. dini aku pun begitu, mencoba bertahan sebisa mungkin tanpa banyak merajuk walau susah karena dirimu sosok terbaik bagiku melepas amuk, mengucap rindu, memeluk sendu, mendefinisikan kalbu. kamu kuali terbaik bagi luapan emosiku, nasihatmu itu sendok bambu, bersama kita ciptakan lezatnya sup kaldu.
hanya saja sekarang berbeda. aku dan dia, kau dan mereka.
hanya saja sekarang aku sendiri dan kau tidak lagi sakit hati, lalu siapa yang patah hati?