Mar 15, 2012

terima kasih dan selamat pagi

selamat pagi, disini saya hadir.
disana? anda pasti masih tidur.

pikiran ini datang ketika beberapa (bukan hanya satu) teman yang cukup dekat dengan saya mulai mempertanyakannya. mengenai hubungan, mengenai cinta -walaupun berlebihan rasanya.

pertanyan-pertanyaan yang datang itu kurang lebih berbunyi, "lagi deket sama siapa sekarang jes?", "udah ga bbm-an sama si itu?", "yang kemaren ngajak javajazz gimana kelanjutannya?", "ihh. kalau ngomongnya udah kaya gini sih pasti ada apa-apanya", atau "geez. those are the signals you idiots!". ya kurang lebih seperti itu.

chill, this is not going to be a lame curcol. or is it?

selama ini saya berpikir bahwa itu semua karena saya belum menemukan sosok yang sesuai dengan kriteria saya -kriteria yang sedikit banyak cukup tinggi untuk ukuran human being seperti saya ini yang malas, kurang pintar, dan baik sampul, gaya bicara, berpikir, dan sebagian besar tingkah lakunya seperti ayah saya.

selama ini teman-teman dekat saya beranggapan bahwa saya yang kurang peka membaca tanda, menutup diri, atau naif dan perfeksionis.

hingga suatu saat teori saya akan 'tipe' tersebut harus tumbang. karena lelaki terakhir yang dekat dengan saya telah memenuhi semua kriteria tersebut. apa kriterianya? well, dia harus lebih pintar dari saya, suka olahraga, dan pintar bermain musik, last but not least: se-iman. dan sosok yang lebih sering saya panggil kakak tersebut, memenuhi semuanya. kami pun menjadi dekat, bahkan saya memuat sosok dirinya dalam novel yang saya dedikasikan sebagai tugas salah satu mata kuliah di kampus.

singkat cerita, he's so fascinating. but it just doesnt work.

kemudian seorang teman yang cukup banyak mengetahui kehidupan pribadi saya mencoba mengorek lebih dalam. dan pembahasan kami membawa saya pada sosok anda.

ya, anda.




***
anda, teman yang sudah saya kenal sejak bocah tetapi baru menjadi sahabat ketika saya menginjak bangku sekolah menegah. dan saya pun ingat bagaimana awal mula persahabatan itu, anda mentraktir saya cingcongfan, dimana saat itu saya begitu clueless akan keberadaan makanan itu.

anda, yang sudah menjadi sahabat ketika saya memutuskan untuk melanjutkan SMA di Bandung, dan yang kemudian membentuk jarak renggang diantara kita selama setahun.

anda dan saya yang kemudian mempunyai kekasih, dan putus, kemudian memutuskan untuk saling menyimpan cerita hingga saat kita bertemu.

anda dan saya yang saling menertawakan mantan kekasih masing-masing seolah kita yang terbaik. anda, cowo brengsek yang mempermainkan hati wanita, dan saya cewe bodoh yang naif.

anda dan saya yang entah bagaimana, baru bertemu kembali di tahun terakhir sekolah menengah kita.

anda yang menjemput saya di stasiun kereta api sepulang saya dari pendaftaran universitas incaran saya.

anda memperkenalkan dan mengajak hingga saya pertama kalinya menapakkan kaki di suatu minimarket bernama seven eleven, yang pada saat itu belum se-gaul dan mewabah seperti saat ini. bahkan sekarang, sebenci-benci saya sama sevel karena bikin macet, saya tetap tersenyum saat melewati tempat itu.

anda dan saya yang sama-sama berjuang belajar demi universitas dambaan. hari-hari yang terlewati dengan tumpukan kertas soal, buku bank soal, dan sumber-sumber lainnya.

anda dan saya yang kemudian berdoa bersama, dan saling memanjatkan doa via layanan pesan singkat.

anda yang mengetahui trauma yang pernah saya alami, dan kemudian selalu mengingatkan untuk tidak pulang sendiri malam hari. bahkan menjemput dan mengantar selama anda tidak berhalangan.

anda yang rela meninggalkan battle pes anda, demi menemani saya yang diganggu lelaki aneh menyeramkan, lagi-lagi ketika saya sedang lunchbreak di sevel. hanya untuk menemani saya selama kurang lebih 20menit quality time yang harus berakhir karena akhirnya saudara saya yang dinanti telah datang menjemput.

anda dan saya yang selalu sulit bertemu walaupun sudah merencanakan dari jauh hari.

anda yang selalu ada di saat-saat terlabil dalam hidup saya. sekedar mendengarkan curhatan meaningless, baru kemudian memberikan saran atau malah menertawakan saya.

anda dan saya yang selalu bertukar cerita tentang gadis atau lelaki idaman atau incaran masing-masing.

anda yang selalu mengkhawatirkan saya, baik itu pola tidur, jenis makanan, bahkan naik apa saya kalau sedang berpergian.

anda yang sulit menerima kekalahan, tetapi menerima saya di sisi anda pada saat itu. bukan untuk berbicara menenangkan, memberi motivasi, atau lainnya. hanya berdiam disana, menemani.

anda dan saya yang sama-sama membenci fans fanatik manchester united. bergosip tentang bola via messenger, bertaruh taruhan yang tak pernah terealisasikan.

anda yang kini menemukan sosok the one yang sering kita perbincangkan, dan saya yang masih terpaut ragu pada sosok anda.

anda yang begitu baik, dan saya yang tetap sadar untuk berpijak pada bumi.

anda dan saya,
kita yang masih menjadi tanda tanya .
atau
hanya saya yang senang mengada.





***
terima kasih. selamat pagi, mari menghadap hari ini  :)