sebelumnya maaf, saya bukan pengamat sepakbola, bukan jurnalis, atau pemain sepakbola. saya cuma sering mendengar masalah ini dari teman-teman yang penggila bola, yang kesal juga melihat apa yang ada didepan mata
Indonesia gagal juara lagi, setelah 4 kali masuk final selalu kalah. kalau dulu alibinya ini-itu, kegagalan sekarang mungkin karna faktor-faktor ini;
1. Nurdin Halid. semua orang tau, si ketua umum ini adalah pembawa bencana. mulai dari kacaunya Liga, praktek korupsi, pengetahuan dangkal, macem-macem kegoblokannya. Alfred Riedl saja siap mundur walaupun sesuai target, kapan kita mendengar “Nurdin siap mundur”?
2. Trauma. anggapan selalu kalah di final pasti selalu muncul. dari pemain sendiri ataupun dari masyarakat
3. Suporter sendiri. tidak ada yang meragukan kesetiaan dan kegilaan mereka dalam mendukung Timnas. tapi kegilaannya itulah yang merugikan. contoh pemberontakan di Stadion akibat kacaunya penjualan tiket. para pemain juga tentunya “sedikit” terganggu dengan insiden itu
4. Media massa. ini jelas menjadi penghancur kekonsistenan Timnas. saya fikir media terlalu berlebihan, lihat saja bisa-bisanya Gonzales, Markus, ataupun Ahmad Bustomi muncul di Insert Pagi, dan puluhan acara berbau gosip. harusnya tim juga tau, selama bergulirnya turnamen, pemain sebisa mungkin dijauhkan dari media agar konsentrasinya tetap sepakbola
5. Dendam. rasa dendam kita kepada Malaysia justru menghilangkan fokus kita. pemain terbawa emosi ketika mengingat apa saja yang telah diambil negara terkutuk itu
itu mungkin faktor utama kegagalan kita. yang jelas, laser bukan alasan yang bisa dipertanggungjawabkan
Selamat untuk Malaysia, tetap semangat untuk Indonesia. Sea Games tahun depan bisa jadi pengganti ketidakberuntungan ini. pertahankan Alfred Riedl, turunkan Nurdin Halid. Tolong, dengarkan kami, PSSI!