Mar 6, 2012

objecti WHAT?

"objectivity is indeed difficult to obtain. for our perspective always colored on what we feel, love, and hope"


Seumur hidup, gue percaya akan ide dan keberadaan si mahkluk yang kita sebut sebagai objektifitas ini.tapi pada akhirnya, gue dihadapkan dengan jawaban bahwa sikap gue itu naive.

siapa sih manusia yang gak pernah berbuat salah? tentunya gak ada.

baru-baru ini gue membuat suatu kesalahan, yang fatal. sehingga dampak yang dihasilkan pun cukup kronis.

gue membeberkan sesuatu rahasia, yang akhirnya membuat sepasang mantan kekasih berkelahi dengan hebat. coba bayangkan, udah mantan kekasih, gara-gara gue jadi berantem lebih hebat lagi. berantem kuadrat, parah.

everythings so blurry in my mind, gue ga bisa mengingat kronologis kejadiannya dengan  jelas, semakin gue berusaha mengingat, makin banyak juga skenario-skenario "seandainy" yang muncul dalam otak gue. tidak perduli seberapa keras gue mencoba untuk objective dan mengakui kesalahan gue, tetap saja hati ini memunculkan argumen pembelaan diri. gue merasa kaya koruptor.

inti permasalahannya sih gampang aja, gue yang salah karena gue ember. se-simple itu kok.

sekarang sudah 4 hari berlalu sejak insiden itu. rasanya gue sudah lebih tenang dan bisa berpikir jernih, dimana letak awal permasalahan ini.

ternyata awalnya memang dari lack of objectivity itself. 

begini gampangnya, si A curhat sama gue tentang si B (mantan pacarnya). si A dan si B sendiri adalah sahabat gue. dan entah kenapa -yang pada akhirnya gue ketahui sebagai rasa kasihan, gue memihak si B. gue merasa si B layak untuk tahu masalah rahasia si A ini. maka gue pun menceritakannya, karena gue pro ke si B. kemudian ketika si B confirm ke si A, BANG! kalian bisa menebak kelanjutan ceritanya.

gue ga memegang prinsip objektifitas ini. gue mencampur adukan perasaan dalam apa yang seharusnya gue lakukan. gue ga bertanggung jawab. gue melakukan apa 'yang menurut gue' baik bagi si B, bukan apa 'yang benar'. pada akhirnya gue mendapat jawaban, bahwa 'apa yang menurut gue baik' ternyata malah berakibat buruk buat kedua pihak.

itu yang terjadi ketika perasaan dan emosi mengambil alih. ketika objektifitas di lupakan.

lacking of objectivity = perspective based on what we feel = i feel pitty for B therefor i told her the secret

lacking of objectivity = perspective based on what we love = B still loves A so she confirm the secret to A

lacking of objectivity = perspective based on what we hope =i hope B will kept it and wont confirm, B hope when sshe confirm A will be nice and everything will went just well, A hope i will do the right thing, keeping his secret.





***
gue teringat salah satu posting di blog dosen creative writing gue -the lovely ms. Kristy Nelwan, there said that she doesnt believe in objectivity.

dulu gue menganggap bahwa hanya orang lemah, ga berkomitmen, ilogical, dan tukang gosip yang ga bisa berpikir objektif. ternyata gue yang naif dan beluk cukup merasakan garam dunia.

tapi jika kalian tanya apakah gue akan menyerah sama si objektifitas ini? tentu saja tidak.

people made mistakes but only fool who repeat it over and over.

seperti kata Einstein,"there are no such thing as perfection, the only perfection is the imperfection itself", maka yang akan gue lakukan adalah melakukan yang terbaik to get as near as possible to it.



***
to both of you, im sincerely sorry pals, i screwed up. BIG.